Langit – langit
kamar berpesan, “Bercita – citalah setinggi mungkin”
Jam dinding
berkata, “Tiap detik itu sangat berharga”
Cermin bilang, “Berkacalah
sebelum bertindak”
Kalender
menasehati, “Jangan menunda sampai besok”
Pintu
berteriak,” Dorong yang keras, Pergi dan Berusahalah”
Tiba – Tiba
lantai berbisik, “ BERSUJUD dan BERDO’ALAH karena kunci kesuksesan kita, semua
karena ALLAH subhanawata’ala.
Sudah lebih dari 27
tahun saya hidup dan dalam perjalanan nya banyak hal yang saya pelajari namun
ternyata baru saya sadari bahwa ada tak berhingga pengetahuan yang saya
mengerti tetapi tidak dapat mendefinisikan nya (Intuisi) dan sedikit sekali pengetahuan
yang saya mengerti dengan didefinisikan (Formal). Begitulah kesimpulan yang
saya dapatkan dari kuliah Prof. Dr. Marsigit pada hari jumat, 19 September
2014. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sedikit ilmu dan mengajak kita
semua untuk lebih memahami tentang Pengetahuan Intuisi tersebut.
Sebelum memulai
kuliah, beliau memberikan test jawab singkat 50 soal,dan saya salah semua.
Diantara pertanyaannya adalah apakah definisi bijak, baik, buruk, panjang,
lurus, lengkung, lancip,cinta dan benci. Secara pemahaman saya mengerti maksud
dari kata tersebut akan tetapi ketika diminta untuk mendefinisikan bukanlah hal
yang mudah dan saya tidak bisa. Ternyata, kata – kata tersebut adalah sebagian
kecil dari contoh pengetahuan yang dimengerti tetapi tidak bisa di definisikan.
Pengetahuan seperti ini disebut Pengetahuan Intuisi. Sementara contoh
pengetahuan yang saya mengerti dengan didefinisikan itu terkait dengan pengetahuan
formal seperti matematika aksiomatik/matematika murni/matematika pergururuan
tinggi. Untuk mengetahui bilangan prima perlu dirumuskan definisi. Bilangan
prima adalah contoh dari pengetahuan formal. Pengetahuan ini sangat sedikit
sekali di bandingkan pengetahuan intuisi.
Pengetahuan intuisi
meliputi sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sebenar benarnya belajar adalah
mengadakan dari para semua yang mungkin ada. Sehingga pengetahuan intuisi
sangat penting dalam kerangka pembelajaran untuk mengembangkan kreatifitas dan
pemahaman siswa pada umumnya. Pendapat Thomson pada Elegi Pemberontakan Pendidikan
Matematika 1: Intuisi Dalam Matematika Oleh Prof. Marsigit
menjelaskan tentang peran intuisi dalam matematika adalah membuka jalan ke
dalam struktur utama dari pikiran manusia. Thompson menyimpulkan
bahwa intuisi matematika akan muncul setelah tahap olah pengalaman
(experience) matematika. Bagi matematikawan, mathematical experiences adalah
proses dan hasil-hasil riset matematika. Sedangkan bagi siswa sekolah
mathematical experiences dibangun diatas akumulasi keterampilan matematika
(mathematical skills) yang didukung oleh pengetahuan atau pemahaman matematika
(mathematical content). Semuanya itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung
oleh sikap dan metode matematika (mathematical attitude and method) dan sikap
pendukung (supporting attitude) serta internal motivation (rasa senang dan
matematika yang menyenangkan).
Kenyataannya saat
ini, kebanyakan guru matematika dalam kegiatan pembelajaran masih sering
terpaku kepada jebakan definisi yang cenderung di paksakan pada siswa. Ibarat
bayi 2 bulan yang diberi makan jagung. Akibatnya dapat merusak intuisi mereka. Padahal
untuk anak - anak 100 % hidupnya menggunakan pengetahuan intuisi. Bahkan
seorang profesor matematika yang saya lupa namanya sempat mengakui hanya 3 %
menguasai matematika sebagai definisi pengetahuan formal. Seperti kasus yang sedang heboh baru – baru
ini mengenai hasil ujian siswa SD tentang perbedaan 4 x 6 dan 6 x 4 yang sampai
membuat profesor dari ITB dan UGM berdebat merupakan contoh bagaimana budaya
belajar matematika untuk anak masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Secara
definisi matematis kedua perkalian tersebut menghasilkan nilai yang sama.Tetapi secara empiris kedua perkalian tersebut memiliki makna yang tidak sama. Misalkan dalam meresepkan obat 3 x 1 berbeda dengan 1 x 3. Mungkin guru
tersebut bermaksud untuk menanamkan konsep matematis sedini mungkin kepada
siswa tetapi harus juga di perhatikan level pemahaman siswa yang masih
tergolong rendah terhadap hal yang abstrak. Belum lagi pada kasus
Ujian Nasional yang terus menjadi polemik dimana guru mendapat tekanan
yang luar biasa sehingga melakukan inovasi yang tidak biasa pula dalam
mendampingi siswa. Dengan mengabaikan proses pengalaman belajar matematika guru
langsung memberikan latihan soal yang di jawab secara singkat.Dengan kondisi
pembelajaran matematika yang demikian akan menyebabkan para siswa menjadi
miskin mathematical intuition. Bahkan fatalnya bisa mencabut intuisi dan nurani
anak. Atau mungkin sebenarnya intusi dan nurani anak anak telah lama mati.
Sebagai seorang
pendidik yang di punggungnya memikul beban yang berat lagi mulia hendaknya kita
dapat kembali menghidupkan intuisi anak dalam belajar. Jangan biarkan definisi
membunuh intuisi mereka. Karenanya, pembelajaran untuk anak didefinisikan
sebagai aktifitas untuk menggali intuisi melalui observasi,manipulasi,
mengamati,praktek langsung, menggambar, mengukur dan menyimpulkan sehingga
akhirnya anak – anak dapat mendefinisikan sendiri apa yang sedang dipelajari. Matematika
sekolah intinya adalah kegiatan yang bertujuan untuk menelusuri pola dan
hubungan, problem solving, investigasi, dan komunikasi. Jauhkan anak dari zona
nyaman yang membuat mereka berhenti untuk berfikir kritis karena dalam filsafat
kematian lah yang mejadi zona nyaman itu. Mudah – mudahan melalui sedikit
goresan ini bisa menyadarkan kita untuk kembali menziarahi intuisi dan nurani
anak yang telah lama mati sehingga ada hal baik untuk dapat diterapkan kepada
generasi di masa mendatang. Di akhir, saya nukilkan pernyataan Krisna kepada
Drupadi tentang Hati dan Waktu sebagai
berikut “ kebahagiaanmu di waktu yang akan datang tidak bisa menyembuhkan
kesedihanmu sekarang sebaliknya kesedihanmu diwaktu yang akan datang mungkin
akan menghilangkan kebahagianmu diwaktu sekarang “
Refferensi :
Kuliah Prof.
Dr.Marsigit, M.A Jumat, 19 September
2014
http://powermathematics.blogspot.com/