BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Jumat, 15 Juli 2016
Perangkat Pembelajaran Berbasis Reciprocal Teaching
https://drive.google.com/file/d/0B_2oY4zGbbmIZDFXVHlFbWM0UW8/view?usp=sharing
Kamis, 30 Oktober 2014
MITOS VS LOGOS
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu, Jumat 24 Oktober 2014 Oleh Prof.Dr.Marsigit,MA
Dalam hidup ini, manusia tidak akan pernah dapat menghindari yang namanya masalah (persoalan) hidup. Begitu pula saat berfilsafat pun bisa muncul persoalan. Salah satu persoalan dalam filsafat adalah Mitos. Mitos dalam filsafat memiliki pergeseran makna dengan orang awam. Jika mitos pada orang awam merupakan sesuatu yang menyeramkan atau keyakinan tentang sesuatu hal yang belum diyakini kebenaran nya secara umum, dalam filsafat mitos merupakan sesuatu yang tidak kita mengerti dalam melakukan sesuatu hal.
Di Yunani ada mitos bahwa pelangi merupakan jembatan para bidadari untuk turun ke bumi maka kita juga punya mitos tentang laut selatan yang dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Mitos lain mengatakan, jangan menggunakan pakaian berwarna hijau karena itu warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Segala sesuatu yang ada dan mungkin ada mempunyai dua sisi yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan adanya mitos laut selatan adalah orang - orang menjadi santun dan tidak bertindak semaunya di laut selatan sehingga kelestariannya dapat terjaga.
Dalam hidup ini, manusia tidak akan pernah dapat menghindari yang namanya masalah (persoalan) hidup. Begitu pula saat berfilsafat pun bisa muncul persoalan. Salah satu persoalan dalam filsafat adalah Mitos. Mitos dalam filsafat memiliki pergeseran makna dengan orang awam. Jika mitos pada orang awam merupakan sesuatu yang menyeramkan atau keyakinan tentang sesuatu hal yang belum diyakini kebenaran nya secara umum, dalam filsafat mitos merupakan sesuatu yang tidak kita mengerti dalam melakukan sesuatu hal.
Di Yunani ada mitos bahwa pelangi merupakan jembatan para bidadari untuk turun ke bumi maka kita juga punya mitos tentang laut selatan yang dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Mitos lain mengatakan, jangan menggunakan pakaian berwarna hijau karena itu warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Segala sesuatu yang ada dan mungkin ada mempunyai dua sisi yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan adanya mitos laut selatan adalah orang - orang menjadi santun dan tidak bertindak semaunya di laut selatan sehingga kelestariannya dapat terjaga.
Sekitar abad ke-6 S.M. sudah mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu manusia mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang masalah-masalah yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mitos (mythos), dengan begitulah filsafat dilahirkan. Bisa dikatakan bahwa kata "logos" mempunyai arti yang lebih luas dibandingkan kata "rasio". Logosberarti baik kata (tuturan, bahasa) maupun juga rasio.
Meskipun filsafat lahir pada saat rasio mengalahkan mite, tetapi tidak berarti seluruh mitologi ditinggalkan begitu saja secara mendadak. Sebenarnya proses itu berlangsung secara berangsur-angsur saja. Seluruh filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pergumulan yang panjang antara mitos dan logos. Dan justru sebenarnya tidak sulit untuk menunjukkan pengaruh mitlogi atas filsuf-filsuf yang pertama. Namun demikian, pada abad ke-6 S.M., di negeri Yunani telah terjadi sesuatu yang benar-benar baru.
Filsuf-filsuf pertama memandang dunia atas cara yang belum pernah dipraktekkan oleh orang lain. Mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam peristiwa-peristiwa mitis pada awal mula yang harus dipercaya begitu saja, sebab belum ada kemungkinan untuk membuktikan kebenarannya. Mereka tidak membatasi diri atas mite-mite yang telah diturunkan dalam tradisi, setinggi-tingginya ditambah dalam imajinasi puitis, seperti pada HESIODOS (750 S.M.). Mereka sudah mulai berpikir sendiri. Di belakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum, mereka mencari suatu keterangan yang memungkinkan untuk dapat mengerti tentang kejadian-kejadian itu.
Tidak dapat disangkal lagi, keterangan-keterangan semacam itu bagi telinga kita sekarang ini sering kali agak "naif" kedengarannya. Tetapi yang terpenting adalah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem-probem yang ditemui dalam alam semesta. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah pelangi (rainbow). Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi adalah seorang "Dewi" yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain. Tanggapan semacam ini dapat kita baca mengenai HOMEROS (850 S.M.), misalnya. Tetapi XENOPHANES (570-480 S.M.), salah seorang di antara filsuf-filsuf pertama, mengatakan bahwa pelangi merupakan suatu awan.
Kira-kira satu abad sesudahnya, ANAXAGORAS (499-428 S.M.) sudah mengerti bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan-awan. Dan justru karena cara pendekatan seperti itulah yang bersifat rasional, dan dapat dibuktikan oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan untuk mendebatkan hasil-hasilnya secara leluasa dan untuk umum. Satu jawaban akan menampilkan pertanyaan-pertanyaan lain, dan kritik atas suatu keterangan akan menuntut timbulnya keterangan lain, sehingga dalam suasana rasional ini perkembangan dan kemajuan ilmiah menjadi sangat mungkin.
Kalau kita katakan bahwa filsafat lahir karena logos telah mengatakan mitos, berarti sekali lagi harus kita tekankan bahwa kata filsafat di sini meliputi filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana keduanya sekarang dibedakan dalam terminologi modern. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayaan, berbagai ilmu satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, supaya memperoleh otonominya.
Dari sebab itu, filsuf-filsuf selanjutnya seperti RENE DESCRATES alias CARTESIUS (1596-1650),IMMANUEL KANT (1724-1804), GEORGE W. F. HEGEL (1770-1831), EDMUND HUSSERL (1859-1938), dan ilmuwan-ilmuwan lainnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), MAX PLANCK (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955) mempunyai leluhur-leluhur yang sama di negeri Yunani. Bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, bahwa merekalah yang "menelorkan" cara berpikir ilmiah. KataJ. Burnet: "it is an adequate description of science to say that it is thinking about the world in the Greek way....". Adalah suatu penggambaran tepat mengenai ilmu pengetahuan, bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah berpikir tentang dunia dengan gaya Yuanani.
Dengan demikian mereka termasuk pendasar pertama kultur barat, bahkan kultur sedunia, sebab cara pendekatan ilmiah semakin menjadi unsur hakiki dalam suatu kultur universal yang merangkun seluruh kebudayaan di seluruh dunia.
Meskipun filsafat lahir pada saat rasio mengalahkan mite, tetapi tidak berarti seluruh mitologi ditinggalkan begitu saja secara mendadak. Sebenarnya proses itu berlangsung secara berangsur-angsur saja. Seluruh filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pergumulan yang panjang antara mitos dan logos. Dan justru sebenarnya tidak sulit untuk menunjukkan pengaruh mitlogi atas filsuf-filsuf yang pertama. Namun demikian, pada abad ke-6 S.M., di negeri Yunani telah terjadi sesuatu yang benar-benar baru.
Filsuf-filsuf pertama memandang dunia atas cara yang belum pernah dipraktekkan oleh orang lain. Mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam peristiwa-peristiwa mitis pada awal mula yang harus dipercaya begitu saja, sebab belum ada kemungkinan untuk membuktikan kebenarannya. Mereka tidak membatasi diri atas mite-mite yang telah diturunkan dalam tradisi, setinggi-tingginya ditambah dalam imajinasi puitis, seperti pada HESIODOS (750 S.M.). Mereka sudah mulai berpikir sendiri. Di belakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum, mereka mencari suatu keterangan yang memungkinkan untuk dapat mengerti tentang kejadian-kejadian itu.
Tidak dapat disangkal lagi, keterangan-keterangan semacam itu bagi telinga kita sekarang ini sering kali agak "naif" kedengarannya. Tetapi yang terpenting adalah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem-probem yang ditemui dalam alam semesta. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah pelangi (rainbow). Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi adalah seorang "Dewi" yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain. Tanggapan semacam ini dapat kita baca mengenai HOMEROS (850 S.M.), misalnya. Tetapi XENOPHANES (570-480 S.M.), salah seorang di antara filsuf-filsuf pertama, mengatakan bahwa pelangi merupakan suatu awan.
Kira-kira satu abad sesudahnya, ANAXAGORAS (499-428 S.M.) sudah mengerti bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan-awan. Dan justru karena cara pendekatan seperti itulah yang bersifat rasional, dan dapat dibuktikan oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan untuk mendebatkan hasil-hasilnya secara leluasa dan untuk umum. Satu jawaban akan menampilkan pertanyaan-pertanyaan lain, dan kritik atas suatu keterangan akan menuntut timbulnya keterangan lain, sehingga dalam suasana rasional ini perkembangan dan kemajuan ilmiah menjadi sangat mungkin.
Kalau kita katakan bahwa filsafat lahir karena logos telah mengatakan mitos, berarti sekali lagi harus kita tekankan bahwa kata filsafat di sini meliputi filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana keduanya sekarang dibedakan dalam terminologi modern. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayaan, berbagai ilmu satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, supaya memperoleh otonominya.
Dari sebab itu, filsuf-filsuf selanjutnya seperti RENE DESCRATES alias CARTESIUS (1596-1650),IMMANUEL KANT (1724-1804), GEORGE W. F. HEGEL (1770-1831), EDMUND HUSSERL (1859-1938), dan ilmuwan-ilmuwan lainnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), MAX PLANCK (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955) mempunyai leluhur-leluhur yang sama di negeri Yunani. Bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, bahwa merekalah yang "menelorkan" cara berpikir ilmiah. KataJ. Burnet: "it is an adequate description of science to say that it is thinking about the world in the Greek way....". Adalah suatu penggambaran tepat mengenai ilmu pengetahuan, bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah berpikir tentang dunia dengan gaya Yuanani.
Dengan demikian mereka termasuk pendasar pertama kultur barat, bahkan kultur sedunia, sebab cara pendekatan ilmiah semakin menjadi unsur hakiki dalam suatu kultur universal yang merangkun seluruh kebudayaan di seluruh dunia.
AKAR FILSAFAT ADALAH KESADARAN BERFIKIR
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Oleh Prof.
Dr.Marsigit,MA pada hari Jumat, 17 Oktober 2014
Berfilsat
itu lembut, bergerak, memantul, berakar, berhubungan, bertingkat tingkat, dan
berdimensi. Filsafat dibangun sesuai dengan prinsip hidup. Dia mengalir,punya
kelebihan dan kekurangan. Bisa sakit dan sehat. Yang paling pokok dari filsafat
yang sehat adalah hidup yang sehat. Kalau hidup sehat maka bisa membangun filsafat
yang sehat. Artinya filsafat tidak berjarak dengan hidup. Filsafat juga tidak
berjarak dengan diri kita. Oleh karena itu sebenar benar filsafat adalah diri
kita sendiri.
Dalam
filsafat utk konteks tertentu memiliki perbedaan. Bagi orang Barat filsafat
merupakan pola fikir. Sedangkan bagi orang timur, filsafat adalah mencari
kesempurnaan hidup. Manusia makhluk sempurna di dalam ketidaksempurnaan nya. Maka
tiadalah mampu manusia itu mencari kesempurnaan hidup melainkan hanya berusaha
karena manusia menyadari yang maha sempurna adalah Tuhan.
Filsafat
tidak boleh diabaikan karena artinya kita akan mengabaikan fikiran. Tetapi
tidak juga bisa di paksakan karena bisa jadi sakit. Oleh karena itu, karena
filsafat menjadi bagian dari diri kita, kenalilah objek,metode,dan batas
batasannya. Batasan dalam filsafat adalah : etik dan estetika. Kalau di intesifkan ke atas memuat spiritualitas.
Filsafat jika dianalogikan fikiran maka merujuk kepada dunia. Sedangkan
filsafat spiritual berada di dalam hati. Jadi bisa juga dikatakan bahwa
batasaan filsafat adalah hati. Jadi hati bisa mendeteksi batas fikiran kita. Sehebat
apapun dunia kita jangan sampai meronngrong iman kita tetapi sebaliknya belajar
filsafat justru diharapkan dapat menyuburkan spiritual dan memperkokokh
keyakinan kita.
Karektiristik
filsafat adalah berfikir, utk bisa berfikir maka harus membaca. Sebenar benar
filsafat adalah yang ada dan mungkin ada. Jadi dengan cara membaca dan
mengenali yang ada dan mungkin ada merupakan akar dari belajar belajar filsafat.
Filsafat adalah manajemen ruang dan waktu. Tidak peka
terhadap ruang dan waktu merupakan penyakit filsafat. Filsafat memperjuangkan
yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita. Satu dengan yang lain
merupakan thesis dan anti thesis. Filsafat memperbincangkan segala sesuatu.
Menginteraksikan antara thesis dan anti thesis, karena obyek filsafat adalah
yang ada dan yang mungkin ada. Mesir merupakan thesis dari orang Yunani dan
orang Yunani merupakan anti thesis dari orang Mesir. Kesadaran berfilsafat sangat
lembut sekali. Pusat budaya adalah kerajaan, yang mengajarkan forma atau tata
cara.
Esensi filsafat, dari awal hingga akhir pada intinya
kita belajar adab dalam
berfilsafat, dan berpikir sesuai ruang dan waktu. Setiap individu menepati ruang dan waktu masing – masing. Tergantung
individu masing – masing dalam memanfaatkan ruang dan waktu sebagai kesempatan
hidup. Adanya ketidaktepatan ruang dan waktu berakibat siapa yang berkuasa
dialah yang berhak bicara. Filsafat tidak hanya olah pikir orang biasa, dalam
artian harus profesional, yang mempunyai kesadaran dalam setiap multi dimensi.
BELAJAR SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT (Sebuah Refleksi Kacang Agar Tidak Lupa Pada Kulitnya)
Terinspirasi Oleh
Kuliah Prof.Dr. Marsigit,MA Pada Hari Jumat,10 Oktober 2014 Jam 15.40 -1720 di
Ruang 106A Gd.Lama Pasca Sarjana UNY
Dalam mempelajari Filsafat, kita merujuk kepada
pemikiran para filsuf. Untuk memahami pemikiran para filsuf kita bisa membaca
sejarah perkembangan filsafat dan karya – karya yang mereka buat. Berikut akan
coba saya uraikan sejarah perkembangan filsafat untuk dapat sedikit membantu
kita dalam mempelajari ilmu filsafat.
Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada,
baik filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dan lain-lain.
Semua obyek filsafat memiliki sifat-sifat, diantaranya adalah sifat tetap dan
sifat berubah.
Ø Sifat Tetap
(hermenidesme)
Tetap ini
mempunyai sifat yaitu satu (monoisme)
Ø Sifat
Berubah (heraditos)
Berubah yang
dimaksud mempunyai sifat yaitu banyak/ jamak (pluralisme)
Sifat dari gabungan tetap dan berubah suatu obyek
filsafat adalah dua (dualism).
Plato (Platonisme) menyebutkan bahwa tetap berada
dalam pikiran, yang kemudian melahirkan idealisme. Bersifat Analitik A Priori.
Analitik adalah konsisten. A Priori adalah berpikir walaupun belum bertemu. Hal
ini menyebabkan sifat identitas, contohnya Aku = Aku, A = A, dst yang selalu
konsisten. Aristoteles menyebutkan bahwa semua yang berubah adalah bersifat di
luar pikiran. Kemudian melahirkan paham realisme. Bersifat Sintetik A
Posteriori. Sintetik artinya intuitif. A Posteriori artinya baru bisa berpikir
setelah mrlihatnya. Hal ini menyebabkan sifat kontradiksi, contohnya Aku ≠ Aku, A ≠ A, dst yang tentu tidak konsisten
Abad Gelap
Pada abad 13 – 15 Masehi terjadi abad gelab, yaitu
abad di mana kepercayaan paham Geosentris sangat dominan. Siapa saja yang
menolak kepercayaan tersebut akan dibunuh. Geometris adalah dimana bumi
merupakan pusat dari tata surya sehingga matahari, bulan, bintang-bintang, dll
mengitari bumi (bumi sebagai poros). Kemudian Corponicus memunculkan gagasan
baru yang berlawanan, yaitu Heliosentris. Heliosentris adalah dimana matahari
merupakan pusat dari tata surya sehingga bumi memutari matahari (matahari
sebagai poros). Korban dari munculnya paham Heliosentris adalah murid dari
Corponicus sendiri, yaitu terbunuhnya Gelileo Galilei. Setelah itu, pada tahun
1600 – 1700 an muncul Rene Descrates dan David Hume yang merupakan pertanda
munculnya abad baru, yaitu abad modern.
Rene Descartes adalah tokoh yang mencantumkan paham
rasionalisme yang berasal dari sifat obyek yang tetap. Rene Descartes menyebutkan
bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada rasio.
David Hume adalah tokoh yang mencantumkan paham
empirisme, yaitu pengalaman. Hal ini berpangkal dari sifat obyek yang dianggap
berubah. David Hume menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman.
Immanuel Kant (1781)
Immanuel Kant (1781) mencetuskan untuk “mengawinkan”
kedua kutub besar, yaitu analitik apriori dan sintetik a posteriori. Analitik A
posteriori tidak bisa digabungkan karena apolitik berarti konsisten yang
melahirkan paham koherentisme (matematika murni), a posteriori berarti baru
bisa berpikir setelah melihat sehingga tidak terjadinya konsistensi. Kemudian,
digabungkannya Sintetik A Priori. Sintetik adalah intuitif, kemudian apriori
adalah bisa berpikir walau belum bertemu sehingga tercetuslah bahwa ilmu adalah
sintetik a priori.
Immanuel Kant menyebutkan bahwa setiap manusia
menggunakan kategori untuk menerjemahkan hal kongrit menuju ke hal yang formal.
Sedangkan, yang digunakan untuk menerjemahkan hal formal menuju ke hal kongrit
atau pengalaman disebut dengan hermenetika.
Hal ini melahirkan paham absolutism, contohnya adalah
matematika murni. Melahirkan paham relativisme, contohnya adalah matematika
kongrit. Kemudian, penggunaan metode saintifik serta bantuan teknologi, maka
matematika kongrit dibawa ke matematika yang absolut.
Terjadi pemberontakan Aguste Compte yang merupakan
penganut positivism melahirkan ilmu bidang. Menurut pandangan Aguste Compte
tataran paling rendah adalah spiritualitas, normative filsafat, kemudian
saintifik. Hal ini tentu saja membuat terjadinya anomaly terhadap dunia, yaitu
keadaan dimana dunia menjadi sakit
Menurut masyarakat modern kontemporer saat ini,
tataran masyarakat paling rendah adalah archaic (masyarakat batu), kemudian
tribal, tradisional, feudal, modern, post-modern, dan post-post modern (powernow).
Spiritualitas pada masyarakat modern ini disebut sebagai masyarakat tribal atau
masyakarakat yang tradisional. Hal ini menyebabkan kita lupa akan identitas
kita sebagai makhluk Tuhan YME. Powernow menggunakan banyak senjata-senjata
seperti kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain-lain untuk menguasai
dunia.
Manusia bagaikan ikan kecil yang terombang
ambing di lautan kehidupan (ide) sekarang yang kontemporer. Filsafat merupakan
salah satu sensor untuk mendeteksi jenis air yang baik dan buruk bagi diri
kita, mengetahui dimensi ruang dan waktu, memperkuat pikiran kritis, dan masih
banyak lagi. Selain itu, doa yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan YME untuk
selalu mohon ampun dan rahmatnya sehingga bisa terhindar dari sifat-sifat jahat
adalah hal yang penting pula.
Kamis, 09 Oktober 2014
HARMONI MENEMBUS RUANG DAN WAKTU
(Refleksi Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A , Jumat 03 Oktober 2014)
Filsafat adalah
manajemen ruang dan waktu. Tidak peka terhadap ruang dan waktu merupakan
penyakit filsafat. Filsafat memperjuangkan yang ada dan yang mungkin ada dalam
pikiran kita Tiadalah yang ada dan mungkin ada tidak menempus ruang dan
waktu. Dimensi ruang dan waktu diantaranya meliputi material,formal, normatif
dan spiritual. Setiap yang ada dan
mungkin ada punya struktur tersebut dan berhak menembus ruang dan waktu . Batu
sekalipun dapat menembus ruang dan
waktu. Ketika batu dipegang berwujud benda maka batu berfungsi sebagai
marterial. Jika batu digunakan untuk pembatas pekarangan,batas wilayah sehingga
berkekuatan hukum maka batu masuk ke dimensi formal. Batu yang digunakan orang
Yunani untuk menghitung jarak dengan menjatuhkan batu setiap satu putaran roda
beralih fungsi menjadi normatifnya batu. Sementara batu yang digunakan sebagai
tasbih menembus ruang spiritual.
Apalagi manusia yang mempunyai
ikhtiar dan takdir (fatal dan fital) pasti selalu menembus ruang dan waktu.
Maka hidup dalam filsafat dapat didefinisikan menembus ruang dan waktu. Hidup
yang berhasil adalah keberhasilan menembus ruang dan waktu. Ada nya teknlogi
seperti pesawat terbang, kereta api, bus, dan kendaraan lainnya adalah media
untuk memanipulasi metodologi menembus ruang dan waktu. Sehingga metode
menempus ruang dan waktu manusia tidak lah prematur atau terbatas pada kemampuan dasar seperti berjalannya keong, tetapi
lebih dari itu. Sejatinya menembus ruang dan waktu lebih dari sekedar perjalan
manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata- kata yang akan dikatakan
atau yang mungkin akan dikatakan juga menembus ruang dan waktu. Ketika kita berada di rung kelas akan mengajar
anak anak tentu akan berbeda kata – katanya waktu menghadap kepala sekolah.
Esensi
filsafat, dari awal hingga akhir pada intinya kita belajar adab dalam
berfilsafat, dan berpikir sesuai ruang dan waktu. Setiap individu menempati
ruang dan waktu masing – masing. Tergantung individu masing – masing dalam memanfaatkan
ruang dan waktu sebagai kesempatan hidup. Adanya ketidaktepatan ruang dan waktu
berakibat siapa yang berkuasa dialah yang berhak bicara. Filsafat tidak hanya
olah pikir orang biasa, dalam artian harus profesional, yang mempunyai
kesadaran dalam setiap multi dimensi. Cita cita
berfilsafat adalah Harmoni menembus ruang dan waktu yaitu kedekatakan kita
kepada sang pencipta, kesempurnaan absolut.
Kamis, 02 Oktober 2014
MENCOBA MENARIK BENANG MERAH FILSAFAT
(Refleksi Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A. Jumat, 26 September 2014)
Kita tidak harus
mengetahui matematika dengan sangat mendalam untuk mengerti filsafat
matematika, tapi kalau terlalu sedikit juga tidak baik. Seseorang jika sudah
purna dalam ilmu bidang maka ada kekurangannya, yaitu ketidakfleksibilitasnya
menjadi rendah di dalam merefleksikan ilmunya. Di dalam mempelajari filsafat ternyata
yang perlu direfleksikan itu banyak hal, dan hal yang ada dan yang mungkin ada
itu berdimensi, sehingga dalam menjawab pertanyaan siapakah diriku, maka diriku
itu berdimensi, diriku ketika kapan, diriku ketika dimana, diriku dalam ruang
dan waktunya yang apa. Diriku yang relative dan diriku yang absolute itu
semuanya ada di dalam filsafat.
Berfilsafat itu
menggunakan metode hidup, yaitu hermenetika dengan adanya metode spiral, seperti
lingkaran kemudian ditambah unsur garis lurus sehingga menjadi spiral, maka bersifat
terus berulang dan dikembangkan. Apakah sebetulnya filsafat, mungkin kita
sampai sekarang belum yakin betul untuk menjawabnya, karena kesadaran kita
terhadap ruang dan waktunya filsafat. Tetapi kita bisa merunut dari awal
sejarahnya. Berfilsafat itu modalnya adalah critical thinking (berpikir
kritis), dengan menggunakan pikiran, karena berfilsafat adalah olah pikir.
Hanya kita buktikan bahwa berpikir itu banyak sekali dimensinya dan banyak
sekali hubungannya, terbukti di dalam elegi-elegi Prof. Marsigit, bagaimana
beliau menghubung-hubungkan pikiran dengan hati, kemudian bagaimana menerapkan
pikiran untuk memahami segala sesuatunya di dalam ruang dan waktunya sehingga
harapannya yaitu melalui berfilsafat kita dapat memperbincangkan yang ada dan
yang mungkin ada di dalam ruang lingkup yang kita pikirkan. Misalnya jika yang
kita bicarakan tentang pendidikan matematika, maka ruang yang satu dengan yang
lainnya itu saling berpotong-potongan. Pendidikan matematika dalam arti
materialnya artinya satu sisi terdapat ruang pendidikan matematika, dimana
ruang sebelahnya adalah pendidikan sains, ruang pendidikan IPS, dan lain
sebagainya. Tapi di dalamnya itu atau di dalam ruang-ruang itu bisa kita
berikan dimensi baru yaitu ruang material, formal, normative dan spiritual, dan
juga ruang-ruang yang lain, misalnya ruang archaic, ruang politik, ruang diri,
ruang subyektif, ruang universal, ruang kuantitatif, ruang kualitatif dsb.
Fungsi karakter
matematika di sekolah adalah mengajarkan tentang kesadaran klasifikasi/
penggolong-golongan, hal ini dipandang dari sisi filsafat sangat mudah karena
penggolong-golongan adalah kategori. Kategori sangat penting, tiadalah
kesadaran kita terlepas dari kategori. Pengetahuan dan ilmu itu adalah merupakan
kategori. Tanpa kategori kita tidak mampu berpikir dan tidak bisa hidup. Kategori
itu merupakan salah satu bentuk dari intuisi ruang. Dalam kuliah SMA atau S1
mereka membaca buku-buku filsafat, bisa sumber primer, skunder maupun tersier.
Jadi kita sudah belajar filsafat dari perkembangannya mulai jaman Yunani Kuno
dulu. Wajar kalau yang menjadi fokus adalah segala benda yang berada di luar
dirinya. maka dia selalu tertarik segala sesuatu itu dibuat dari apa dan unsur
dasarnya apa. Maka mulailah pemikiran-pemikiran untuk menggali unsur-unsur benda yang ada di bumi ini. Maka muncullah pemikir-pemikir
dengan berbagai teori. itulah kaitannya dengan pikiran para filsuf.
Sebagai contoh, Plato
membuat buku “Republika” yang berbicara mengenai ketatanegaraan. Sehingga
praktek pertama ketatanegaraan adalah pada jaman Yunani Kuno. Hai ini dulu
masih bersifat netral dan tidak terbebani oleh politik-politik tertentu, jadi
bersifat merdeka. Antara ide dengan kekuatan itu merupakan pertemuan antara
pikiran dengan pengalaman, sehingga
kekuatan yang didukung oleh tentara atau kekuatan Negara itu bisa to
direct atau determine, kemudian
bisa menentukan apa yang diinginkan. Salah satu kebenaran berbunyi bahwa bumi itu
merupakan pusat alam semesta. Sehinggan ketika ada revolusi Copernicus maka yang mengatakan bahwa bumi bukan sebagai
pusat, tetapi matahari adalah sebagai pusat maka sungguh sesuatu yang sangat
luar biasa, karena meruntuhkan kredibilitas, maka kalau bisa ini diberantas
supaya tidak berkembang, tapi pemikiran itu bisa lari secepat angin, tidak
serta merta bisa dibasmi begitu saja. Dan sampai sekarang dikenal bahwa pusat
tata surya itu bukan bumi, tetapi matahari. Bumi itu hanya berputar pada
porosnya, bumi mengalami rotasi dan revolusi, bumi itu mengelilingi matahari.
Itu merupakan suatu contoh mengenai betulnya suatu pengetahuan.
Kembali pada
masalah perkembangan filsafat, ketika jaman modern itu diawali oleh revolusi
Copernicus itu merupakan landasan untuk jaman modern. Yang disebut kaum Empiris
itu banyak sekali, ada Empiris daratan Eropa ada Empiris daratan Inggris,
tokohnya berbeda-beda, juga ada Rasionalis yang di Inggris maupun di Eropa,
walaupun tokoh Rasionalis adalah orang Perancis misalnya. Tapi kalau kita lihat
kembali, perkembangan filsafat atau lajunya dinamika itu juga terjadi sejarah
peradaban manusia dengan berbagai macam keadaan atau naik turunnya pergaulan
antar bangsa, misalnya perang Khalid (perang antara orang Islam dengan Eropa)
itu membawa dampak yang luar biasa yaitu tersosialisasinya ilmu atau
menyebarnya ilmu pengetahuan. Pertama-tama bahwa ajaran Yunani Kuno itu dibawa
oleh orang-orang Islam ke timur dan dipelajari di sana. Sementara semangatnya
pada saat itu karena dominasi gereja itulah maka filsafat Yunani itu dianggap
bertentangan dengan gereja. Maka orangnya pun dikejar dan bukunya pun dibakar.
Sehingga setelah usai jaman gelap terjadi peperangan kembali dan dunia timur
bisa dikalahkan maka ditemukan kembali buku-bukunya Plato dan buku-bukunya
Aristoteles, maka dibangkitkan kembali filsafat Yunani Kuno, dalam hal ini
peran daripada orang-orang Islam adalah yang memelihara filsafat Yunani kuno,
kemudian pada saat yang tepat orang-orang Eropa bisa membacanya kembali,
ditambah filsafatnya bangsa Islam termasuk teknologinya. Sehingga pertanyaannya
kemudian ialah kenapa bangsa Eropa menjadi bangsa yang relatif menang dalam hal
teknologi. Salah satu contohnya membuat rumah saja penuh dengan teknologi.
Definisi ilmu
itu tergantung dunianya. Ada lima dunia ; kaum industry, kaum konservatif, kaum
humanis (old humanis), kaum sosiokontraktif, kaum progresif (kaum education is
for all society). Kaum industry, kaum konservatif dan kaum humanis (old
humanis) mendefinisikan matematika sebagai body
of knowledge, sebagai structure of
knowledge. Jadi para mathematicism itu adalah para prajurit-prajuritnya
kaum Industrialisasi ini. Jika kita berpikir seperti Pure Mathematicism ketika
menghadapi murid-murid, berarti kita adalah prajurit-prajuritnya kaum Industrialisasi
yang siap mencabut intuisinya para siswa, itulah yang bikin tragis, tetapi kaum
Sosiokontraktif dan kaum Progresif (kaum education is for all society)
mendefinisikan matematika sebagai kegiatan, bahkan kegiatan sosial. Tugas guru
adalah bagaimana caranya agar intuisi siswa itu tidak hilang, karena intuisi
adalah 80% dari hidup kita.
Bagi Industrialisasi,
Konservatif dan Old Humanis yang namanya ujian itu adalah eksternal tes atau
ujian nasional, sedangkan bagi Progresif dan kaum education is for all society, yang namanya evaluasi adalah
portofolio. Beda sekali mendefinisikannya. Dan orang-orang New Zeland dan orang-orang
Inggris sangat menolak ujian nasional. Teknologi itu harus ada segmennya. Itulah
yang dalam filsafat disebut dunia makro.
Kalau dunia mikro tidak lain tidak
bukan adalah diriku sendiri.
Hebatnya orang
berfilsafat itu yaitu mampu mentrasformir dunia, menembus ruang dan waktu. Old
Humanis itu artinya tidak berpusat pada Tuhan, tetapi berpusat pada manusia.
Lain dengan Humaniora yang berarti sifat-sifat manusiawi, tapi kalau Humanis
itu yang bersifat berpusat pada diri manusia, ini tidak baik menurut orang yang
berpusat pada Tuhan. Hal ini jika dilihat dari segmen sisi pendidikan.
Indonesia
sekarang ini sudah terjebak dalam skema Kapitalis,
Pragmatis, Utilitarian, Hedonis, atau sang Powernow. Jadi kalau ingin membaca riwayat hidup Indonesia di waktu
yang akan datang maka bacalah riwayat hidup Amerika. Karena Amerika itu adalah
tokoh dan sponsornya Powernow. Indonesia
sekarang ini berada pada fase dimana lebih suka dengan sensasi, itu baik atau
buruk tidak peduli. Kaitannya dengan artis yang turun ke dunia politik itu
fenomenanya bisa dikatakan sebagai kekecewaan masyarakat terhadap situasi, atau
bisa juga diistilahkan sebagai “nglulu”. Intuisi itu sangat penting sekali. Ada
intuisi ruang ada intuisi waktu. Intuisi ruang miaslnya panjang, pendek, besar,
kecil, jauh, dekat. Belajar intuisi itu dengan peragaan, tidak perlu
mendefinisikan.
Rabu, 24 September 2014
ZIARAH INTUISI DAN NURANI YANG TELAH LAMA MATI (Sebuah Goresan Refleksi dari kuliah Prof.Dr.Marsigit, M.A)
Langit – langit
kamar berpesan, “Bercita – citalah setinggi mungkin”
Jam dinding
berkata, “Tiap detik itu sangat berharga”
Cermin bilang, “Berkacalah
sebelum bertindak”
Kalender
menasehati, “Jangan menunda sampai besok”
Pintu
berteriak,” Dorong yang keras, Pergi dan Berusahalah”
Tiba – Tiba
lantai berbisik, “ BERSUJUD dan BERDO’ALAH karena kunci kesuksesan kita, semua
karena ALLAH subhanawata’ala.
Sudah lebih dari 27
tahun saya hidup dan dalam perjalanan nya banyak hal yang saya pelajari namun
ternyata baru saya sadari bahwa ada tak berhingga pengetahuan yang saya
mengerti tetapi tidak dapat mendefinisikan nya (Intuisi) dan sedikit sekali pengetahuan
yang saya mengerti dengan didefinisikan (Formal). Begitulah kesimpulan yang
saya dapatkan dari kuliah Prof. Dr. Marsigit pada hari jumat, 19 September
2014. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sedikit ilmu dan mengajak kita
semua untuk lebih memahami tentang Pengetahuan Intuisi tersebut.
Sebelum memulai
kuliah, beliau memberikan test jawab singkat 50 soal,dan saya salah semua.
Diantara pertanyaannya adalah apakah definisi bijak, baik, buruk, panjang,
lurus, lengkung, lancip,cinta dan benci. Secara pemahaman saya mengerti maksud
dari kata tersebut akan tetapi ketika diminta untuk mendefinisikan bukanlah hal
yang mudah dan saya tidak bisa. Ternyata, kata – kata tersebut adalah sebagian
kecil dari contoh pengetahuan yang dimengerti tetapi tidak bisa di definisikan.
Pengetahuan seperti ini disebut Pengetahuan Intuisi. Sementara contoh
pengetahuan yang saya mengerti dengan didefinisikan itu terkait dengan pengetahuan
formal seperti matematika aksiomatik/matematika murni/matematika pergururuan
tinggi. Untuk mengetahui bilangan prima perlu dirumuskan definisi. Bilangan
prima adalah contoh dari pengetahuan formal. Pengetahuan ini sangat sedikit
sekali di bandingkan pengetahuan intuisi.
Pengetahuan intuisi
meliputi sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sebenar benarnya belajar adalah
mengadakan dari para semua yang mungkin ada. Sehingga pengetahuan intuisi
sangat penting dalam kerangka pembelajaran untuk mengembangkan kreatifitas dan
pemahaman siswa pada umumnya. Pendapat Thomson pada Elegi Pemberontakan Pendidikan
Matematika 1: Intuisi Dalam Matematika Oleh Prof. Marsigit
menjelaskan tentang peran intuisi dalam matematika adalah membuka jalan ke
dalam struktur utama dari pikiran manusia. Thompson menyimpulkan
bahwa intuisi matematika akan muncul setelah tahap olah pengalaman
(experience) matematika. Bagi matematikawan, mathematical experiences adalah
proses dan hasil-hasil riset matematika. Sedangkan bagi siswa sekolah
mathematical experiences dibangun diatas akumulasi keterampilan matematika
(mathematical skills) yang didukung oleh pengetahuan atau pemahaman matematika
(mathematical content). Semuanya itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung
oleh sikap dan metode matematika (mathematical attitude and method) dan sikap
pendukung (supporting attitude) serta internal motivation (rasa senang dan
matematika yang menyenangkan).
Kenyataannya saat
ini, kebanyakan guru matematika dalam kegiatan pembelajaran masih sering
terpaku kepada jebakan definisi yang cenderung di paksakan pada siswa. Ibarat
bayi 2 bulan yang diberi makan jagung. Akibatnya dapat merusak intuisi mereka. Padahal
untuk anak - anak 100 % hidupnya menggunakan pengetahuan intuisi. Bahkan
seorang profesor matematika yang saya lupa namanya sempat mengakui hanya 3 %
menguasai matematika sebagai definisi pengetahuan formal. Seperti kasus yang sedang heboh baru – baru
ini mengenai hasil ujian siswa SD tentang perbedaan 4 x 6 dan 6 x 4 yang sampai
membuat profesor dari ITB dan UGM berdebat merupakan contoh bagaimana budaya
belajar matematika untuk anak masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Secara
definisi matematis kedua perkalian tersebut menghasilkan nilai yang sama.Tetapi secara empiris kedua perkalian tersebut memiliki makna yang tidak sama. Misalkan dalam meresepkan obat 3 x 1 berbeda dengan 1 x 3. Mungkin guru
tersebut bermaksud untuk menanamkan konsep matematis sedini mungkin kepada
siswa tetapi harus juga di perhatikan level pemahaman siswa yang masih
tergolong rendah terhadap hal yang abstrak. Belum lagi pada kasus
Ujian Nasional yang terus menjadi polemik dimana guru mendapat tekanan
yang luar biasa sehingga melakukan inovasi yang tidak biasa pula dalam
mendampingi siswa. Dengan mengabaikan proses pengalaman belajar matematika guru
langsung memberikan latihan soal yang di jawab secara singkat.Dengan kondisi
pembelajaran matematika yang demikian akan menyebabkan para siswa menjadi
miskin mathematical intuition. Bahkan fatalnya bisa mencabut intuisi dan nurani
anak. Atau mungkin sebenarnya intusi dan nurani anak anak telah lama mati.
Sebagai seorang
pendidik yang di punggungnya memikul beban yang berat lagi mulia hendaknya kita
dapat kembali menghidupkan intuisi anak dalam belajar. Jangan biarkan definisi
membunuh intuisi mereka. Karenanya, pembelajaran untuk anak didefinisikan
sebagai aktifitas untuk menggali intuisi melalui observasi,manipulasi,
mengamati,praktek langsung, menggambar, mengukur dan menyimpulkan sehingga
akhirnya anak – anak dapat mendefinisikan sendiri apa yang sedang dipelajari. Matematika
sekolah intinya adalah kegiatan yang bertujuan untuk menelusuri pola dan
hubungan, problem solving, investigasi, dan komunikasi. Jauhkan anak dari zona
nyaman yang membuat mereka berhenti untuk berfikir kritis karena dalam filsafat
kematian lah yang mejadi zona nyaman itu. Mudah – mudahan melalui sedikit
goresan ini bisa menyadarkan kita untuk kembali menziarahi intuisi dan nurani
anak yang telah lama mati sehingga ada hal baik untuk dapat diterapkan kepada
generasi di masa mendatang. Di akhir, saya nukilkan pernyataan Krisna kepada
Drupadi tentang Hati dan Waktu sebagai
berikut “ kebahagiaanmu di waktu yang akan datang tidak bisa menyembuhkan
kesedihanmu sekarang sebaliknya kesedihanmu diwaktu yang akan datang mungkin
akan menghilangkan kebahagianmu diwaktu sekarang “
Refferensi :
Kuliah Prof.
Dr.Marsigit, M.A Jumat, 19 September
2014
http://powermathematics.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)