Kamis, 30 Oktober 2014

MITOS VS LOGOS

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu, Jumat 24 Oktober 2014 Oleh Prof.Dr.Marsigit,MA

Dalam hidup ini, manusia tidak akan pernah dapat menghindari yang namanya masalah (persoalan) hidup. Begitu pula saat berfilsafat pun bisa muncul persoalan.  Salah satu persoalan dalam filsafat adalah Mitos. Mitos dalam filsafat memiliki pergeseran makna dengan orang awam. Jika mitos pada orang awam merupakan sesuatu yang menyeramkan atau keyakinan tentang sesuatu hal yang belum diyakini kebenaran nya secara umum, dalam filsafat mitos merupakan sesuatu yang tidak kita mengerti dalam melakukan sesuatu hal.
Di Yunani ada mitos bahwa pelangi merupakan jembatan para bidadari untuk turun ke bumi maka kita juga punya mitos tentang laut selatan yang dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Mitos lain mengatakan, jangan menggunakan pakaian berwarna hijau karena itu warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Segala sesuatu yang ada dan mungkin ada mempunyai dua sisi yaitu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan adanya mitos laut selatan adalah orang - orang menjadi santun dan tidak bertindak semaunya di laut selatan sehingga kelestariannya dapat terjaga.

Sekitar abad ke-6 S.M. sudah mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu manusia mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang masalah-masalah yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mitos (mythos), dengan begitulah filsafat dilahirkan. Bisa dikatakan bahwa kata "logos" mempunyai arti yang lebih luas dibandingkan kata "rasio". Logosberarti baik kata (tuturan, bahasa) maupun juga rasio.

Meskipun filsafat lahir pada saat rasio mengalahkan mite, tetapi tidak berarti seluruh mitologi ditinggalkan begitu saja secara mendadak. Sebenarnya proses itu berlangsung secara berangsur-angsur saja. Seluruh filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pergumulan yang panjang antara mitos dan logos. Dan justru sebenarnya tidak sulit untuk menunjukkan pengaruh mitlogi atas filsuf-filsuf yang pertama. Namun demikian, pada abad ke-6 S.M., di negeri Yunani telah terjadi sesuatu yang benar-benar baru.

Filsuf-filsuf pertama memandang dunia atas cara yang belum pernah dipraktekkan oleh orang lain. Mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam peristiwa-peristiwa mitis pada awal mula yang harus dipercaya begitu saja, sebab belum ada kemungkinan untuk membuktikan kebenarannya. Mereka tidak membatasi diri atas mite-mite yang telah diturunkan dalam tradisi, setinggi-tingginya ditambah dalam imajinasi puitis, seperti pada HESIODOS (750 S.M.). Mereka sudah mulai berpikir sendiri. Di belakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum, mereka mencari suatu keterangan yang memungkinkan untuk dapat mengerti tentang kejadian-kejadian itu.

Tidak dapat disangkal lagi, keterangan-keterangan semacam itu bagi telinga kita sekarang ini sering kali agak "naif" kedengarannya. Tetapi yang terpenting adalah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem-probem yang ditemui dalam alam semesta. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah pelangi (rainbow). Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi adalah seorang "Dewi" yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain. Tanggapan semacam ini dapat kita baca mengenai HOMEROS (850 S.M.), misalnya. Tetapi XENOPHANES (570-480 S.M.), salah seorang di antara filsuf-filsuf pertama, mengatakan bahwa pelangi merupakan suatu awan.

Kira-kira satu abad sesudahnya, ANAXAGORAS (499-428 S.M.) sudah mengerti bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan-awan. Dan justru karena cara pendekatan seperti itulah yang bersifat rasional, dan dapat dibuktikan oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan untuk mendebatkan hasil-hasilnya secara leluasa dan untuk umum. Satu jawaban akan menampilkan pertanyaan-pertanyaan lain, dan kritik atas suatu keterangan akan menuntut timbulnya keterangan lain, sehingga dalam suasana rasional ini perkembangan dan kemajuan ilmiah menjadi sangat mungkin.

Kalau kita katakan bahwa filsafat lahir karena logos telah mengatakan mitos, berarti sekali lagi harus kita tekankan bahwa kata filsafat di sini meliputi filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana keduanya sekarang dibedakan dalam terminologi modern. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayaan, berbagai ilmu satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, supaya memperoleh otonominya.

Dari sebab itu, filsuf-filsuf selanjutnya seperti RENE DESCRATES alias CARTESIUS (1596-1650),IMMANUEL KANT (1724-1804), GEORGE W. F. HEGEL (1770-1831), EDMUND HUSSERL (1859-1938), dan ilmuwan-ilmuwan lainnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), MAX PLANCK (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955) mempunyai leluhur-leluhur yang sama di negeri Yunani. Bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, bahwa merekalah yang "menelorkan" cara berpikir ilmiah. KataJ. Burnet"it is an adequate description of science to say that it is thinking about the world in the Greek way....". Adalah suatu penggambaran tepat mengenai ilmu pengetahuan, bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah berpikir tentang dunia dengan gaya Yuanani.

Dengan demikian mereka termasuk pendasar pertama kultur barat, bahkan kultur sedunia, sebab cara pendekatan ilmiah semakin menjadi unsur hakiki dalam suatu kultur universal yang merangkun seluruh kebudayaan di seluruh dunia.

AKAR FILSAFAT ADALAH KESADARAN BERFIKIR

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Oleh Prof. Dr.Marsigit,MA pada hari Jumat, 17 Oktober 2014

Berfilsat itu lembut, bergerak, memantul, berakar, berhubungan, bertingkat tingkat, dan berdimensi. Filsafat dibangun sesuai dengan prinsip hidup. Dia mengalir,punya kelebihan dan kekurangan. Bisa sakit dan sehat. Yang paling pokok dari filsafat yang sehat adalah hidup yang sehat. Kalau hidup sehat maka bisa membangun filsafat yang sehat. Artinya filsafat tidak berjarak dengan hidup. Filsafat juga tidak berjarak dengan diri kita. Oleh karena itu sebenar benar filsafat adalah diri kita sendiri.
Dalam filsafat utk konteks tertentu memiliki perbedaan. Bagi orang Barat filsafat merupakan pola fikir. Sedangkan bagi orang timur, filsafat adalah mencari kesempurnaan hidup. Manusia makhluk sempurna di dalam ketidaksempurnaan nya. Maka tiadalah mampu manusia itu mencari kesempurnaan hidup melainkan hanya berusaha karena manusia menyadari yang maha sempurna adalah Tuhan.
Filsafat tidak boleh diabaikan karena artinya kita akan mengabaikan fikiran. Tetapi tidak juga bisa di paksakan karena bisa jadi sakit. Oleh karena itu, karena filsafat menjadi bagian dari diri kita, kenalilah objek,metode,dan batas batasannya. Batasan dalam filsafat adalah : etik dan estetika. Kalau  di intesifkan ke atas memuat spiritualitas. Filsafat jika dianalogikan fikiran maka merujuk kepada dunia. Sedangkan filsafat spiritual berada di dalam hati. Jadi bisa juga dikatakan bahwa batasaan filsafat adalah hati. Jadi hati bisa mendeteksi batas fikiran kita. Sehebat apapun dunia kita jangan sampai meronngrong iman kita tetapi sebaliknya belajar filsafat justru diharapkan dapat menyuburkan spiritual dan memperkokokh keyakinan kita.
Karektiristik filsafat adalah berfikir, utk bisa berfikir maka harus membaca. Sebenar benar filsafat adalah yang ada dan mungkin ada. Jadi dengan cara membaca dan mengenali yang ada dan mungkin ada merupakan akar dari belajar belajar filsafat.
Filsafat adalah manajemen ruang dan waktu. Tidak peka terhadap ruang dan waktu merupakan penyakit filsafat. Filsafat memperjuangkan yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita. Satu dengan yang lain merupakan thesis dan anti thesis. Filsafat memperbincangkan segala sesuatu. Menginteraksikan antara thesis dan anti thesis, karena obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Mesir merupakan thesis dari orang Yunani dan orang Yunani merupakan anti thesis dari orang Mesir. Kesadaran berfilsafat sangat lembut sekali. Pusat budaya adalah kerajaan, yang mengajarkan forma atau tata cara.
Esensi filsafat, dari awal hingga akhir pada intinya kita belajar adab dalam berfilsafat, dan berpikir sesuai ruang dan waktu. Setiap individu menepati ruang dan waktu masing – masing. Tergantung individu masing – masing dalam memanfaatkan ruang dan waktu sebagai kesempatan hidup. Adanya ketidaktepatan ruang dan waktu berakibat siapa yang berkuasa dialah yang berhak bicara. Filsafat tidak hanya olah pikir orang biasa, dalam artian harus profesional, yang mempunyai kesadaran dalam setiap multi dimensi.


BELAJAR SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT (Sebuah Refleksi Kacang Agar Tidak Lupa Pada Kulitnya)


Terinspirasi Oleh Kuliah Prof.Dr. Marsigit,MA Pada Hari Jumat,10 Oktober 2014 Jam 15.40 -1720 di Ruang 106A Gd.Lama Pasca Sarjana UNY


Dalam mempelajari Filsafat, kita merujuk kepada pemikiran para filsuf. Untuk memahami pemikiran para filsuf kita bisa membaca sejarah perkembangan filsafat dan karya – karya yang mereka buat. Berikut akan coba saya uraikan sejarah perkembangan filsafat untuk dapat sedikit membantu kita dalam mempelajari ilmu filsafat.
Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, baik filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dan lain-lain. Semua obyek filsafat memiliki sifat-sifat, diantaranya adalah sifat tetap dan sifat berubah.

Ø  Sifat Tetap (hermenidesme)
Tetap ini mempunyai sifat yaitu satu (monoisme)

Ø  Sifat Berubah (heraditos)
Berubah yang dimaksud mempunyai sifat yaitu banyak/ jamak (pluralisme)
Sifat dari gabungan tetap dan berubah suatu obyek filsafat adalah dua (dualism).
Plato (Platonisme) menyebutkan bahwa tetap berada dalam pikiran, yang kemudian melahirkan idealisme. Bersifat Analitik A Priori. Analitik adalah konsisten. A Priori adalah berpikir walaupun belum bertemu. Hal ini menyebabkan sifat identitas, contohnya Aku = Aku, A = A, dst yang selalu konsisten. Aristoteles menyebutkan bahwa semua yang berubah adalah bersifat di luar pikiran. Kemudian melahirkan paham realisme. Bersifat Sintetik A Posteriori. Sintetik artinya intuitif. A Posteriori artinya baru bisa berpikir setelah mrlihatnya. Hal ini menyebabkan sifat kontradiksi, contohnya Aku  Aku, A ≠ A, dst yang tentu tidak konsisten

Abad Gelap

Pada abad 13 – 15 Masehi terjadi abad gelab, yaitu abad di mana kepercayaan paham Geosentris sangat dominan. Siapa saja yang menolak kepercayaan tersebut akan dibunuh. Geometris adalah dimana bumi merupakan pusat dari tata surya sehingga matahari, bulan, bintang-bintang, dll mengitari bumi (bumi sebagai poros). Kemudian Corponicus memunculkan gagasan baru yang berlawanan, yaitu Heliosentris. Heliosentris adalah dimana matahari merupakan pusat dari tata surya sehingga bumi memutari matahari (matahari sebagai poros). Korban dari munculnya paham Heliosentris adalah murid dari Corponicus sendiri, yaitu terbunuhnya Gelileo Galilei. Setelah itu, pada tahun 1600 – 1700 an muncul Rene Descrates dan David Hume yang merupakan pertanda munculnya abad baru, yaitu abad modern.
Rene Descartes adalah tokoh yang mencantumkan paham rasionalisme yang berasal dari sifat obyek yang tetap. Rene Descartes menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada rasio.
David Hume adalah tokoh yang mencantumkan paham empirisme, yaitu pengalaman. Hal ini berpangkal dari sifat obyek yang dianggap berubah. David Hume menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman.

Immanuel Kant (1781)
Immanuel Kant (1781) mencetuskan untuk “mengawinkan” kedua kutub besar, yaitu analitik apriori dan sintetik a posteriori. Analitik A posteriori tidak bisa digabungkan karena apolitik berarti konsisten yang melahirkan paham koherentisme (matematika murni), a posteriori berarti baru bisa berpikir setelah melihat sehingga tidak terjadinya konsistensi. Kemudian, digabungkannya Sintetik A Priori. Sintetik adalah intuitif, kemudian apriori adalah bisa berpikir walau belum bertemu sehingga tercetuslah bahwa ilmu adalah sintetik a priori.

Immanuel Kant menyebutkan bahwa setiap manusia menggunakan kategori untuk menerjemahkan hal kongrit menuju ke hal yang formal. Sedangkan, yang digunakan untuk menerjemahkan hal formal menuju ke hal kongrit atau pengalaman disebut dengan hermenetika.

Hal ini melahirkan paham absolutism, contohnya adalah matematika murni. Melahirkan paham relativisme, contohnya adalah matematika kongrit. Kemudian, penggunaan metode saintifik serta bantuan teknologi, maka matematika kongrit dibawa ke matematika yang absolut.

Terjadi pemberontakan Aguste Compte yang merupakan penganut positivism melahirkan ilmu bidang. Menurut pandangan Aguste Compte tataran paling rendah adalah spiritualitas, normative filsafat, kemudian saintifik. Hal ini tentu saja membuat terjadinya anomaly terhadap dunia, yaitu keadaan dimana dunia menjadi sakit
Menurut masyarakat modern kontemporer saat ini, tataran masyarakat paling rendah adalah archaic (masyarakat batu), kemudian tribal, tradisional, feudal, modern, post-modern, dan post-post modern (powernow). Spiritualitas pada masyarakat modern ini disebut sebagai masyarakat tribal atau masyakarakat yang tradisional. Hal ini menyebabkan kita lupa akan identitas kita sebagai makhluk Tuhan YME. Powernow menggunakan banyak senjata-senjata seperti kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain-lain untuk menguasai dunia.


Manusia bagaikan ikan kecil yang terombang ambing di lautan kehidupan (ide) sekarang yang kontemporer. Filsafat merupakan salah satu sensor untuk mendeteksi jenis air yang baik dan buruk bagi diri kita, mengetahui dimensi ruang dan waktu, memperkuat pikiran kritis, dan masih banyak lagi. Selain itu, doa yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan YME untuk selalu mohon ampun dan rahmatnya sehingga bisa terhindar dari sifat-sifat jahat adalah hal yang penting pula.

Kamis, 09 Oktober 2014

HARMONI MENEMBUS RUANG DAN WAKTU

(Refleksi Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A , Jumat 03 Oktober 2014)


      Filsafat adalah manajemen ruang dan waktu. Tidak peka terhadap ruang dan waktu merupakan penyakit filsafat. Filsafat memperjuangkan yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita Tiadalah yang ada dan mungkin ada tidak menempus ruang dan waktu. Dimensi ruang dan waktu diantaranya meliputi material,formal, normatif dan spiritual.  Setiap yang ada dan mungkin ada punya struktur tersebut dan berhak menembus ruang dan waktu . Batu sekalipun  dapat menembus ruang dan waktu. Ketika batu dipegang berwujud benda maka batu berfungsi sebagai marterial. Jika batu digunakan untuk pembatas pekarangan,batas wilayah sehingga berkekuatan hukum maka batu masuk ke dimensi formal. Batu yang digunakan orang Yunani untuk menghitung jarak dengan menjatuhkan batu setiap satu putaran roda beralih fungsi menjadi normatifnya batu. Sementara batu yang digunakan sebagai tasbih menembus ruang spiritual. 

    Apalagi manusia yang mempunyai ikhtiar dan takdir (fatal dan fital) pasti selalu menembus ruang dan waktu. Maka hidup dalam filsafat dapat didefinisikan menembus ruang dan waktu. Hidup yang berhasil adalah keberhasilan menembus ruang dan waktu. Ada nya teknlogi seperti pesawat terbang, kereta api, bus, dan kendaraan lainnya adalah media untuk memanipulasi  metodologi  menembus ruang dan waktu. Sehingga metode menempus ruang dan waktu manusia tidak lah prematur atau terbatas pada  kemampuan dasar seperti berjalannya keong, tetapi lebih dari itu. Sejatinya menembus ruang dan waktu lebih dari sekedar perjalan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata- kata yang akan dikatakan atau yang mungkin akan dikatakan juga menembus ruang dan waktu. Ketika kita berada di rung kelas akan mengajar anak anak tentu akan berbeda kata – katanya waktu menghadap kepala sekolah.  

    Esensi filsafat, dari awal hingga akhir pada intinya kita belajar adab dalam berfilsafat, dan berpikir sesuai ruang dan waktu. Setiap individu menempati ruang dan waktu masing – masing. Tergantung individu masing – masing dalam memanfaatkan ruang dan waktu sebagai kesempatan hidup. Adanya ketidaktepatan ruang dan waktu berakibat siapa yang berkuasa dialah yang berhak bicara. Filsafat tidak hanya olah pikir orang biasa, dalam artian harus profesional, yang mempunyai kesadaran dalam setiap multi dimensi. Cita cita berfilsafat adalah Harmoni menembus ruang dan waktu yaitu kedekatakan kita kepada sang pencipta, kesempurnaan absolut.

Kamis, 02 Oktober 2014

MENCOBA MENARIK BENANG MERAH FILSAFAT

(Refleksi Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A. Jumat, 26 September 2014)

Kita tidak harus mengetahui matematika dengan sangat mendalam untuk mengerti filsafat matematika, tapi kalau terlalu sedikit juga tidak baik. Seseorang jika sudah purna dalam ilmu bidang maka ada kekurangannya, yaitu ketidakfleksibilitasnya menjadi rendah di dalam merefleksikan ilmunya. Di dalam mempelajari filsafat ternyata yang perlu direfleksikan itu banyak hal, dan hal yang ada dan yang mungkin ada itu berdimensi, sehingga dalam menjawab pertanyaan siapakah diriku, maka diriku itu berdimensi, diriku ketika kapan, diriku ketika dimana, diriku dalam ruang dan waktunya yang apa. Diriku yang relative dan diriku yang absolute itu semuanya ada di dalam filsafat.
Berfilsafat itu menggunakan metode hidup, yaitu hermenetika dengan adanya metode spiral, seperti lingkaran kemudian ditambah unsur garis lurus sehingga menjadi spiral, maka bersifat terus berulang dan dikembangkan. Apakah sebetulnya filsafat, mungkin kita sampai sekarang belum yakin betul untuk menjawabnya, karena kesadaran kita terhadap ruang dan waktunya filsafat. Tetapi kita bisa merunut dari awal sejarahnya. Berfilsafat itu modalnya adalah critical thinking (berpikir kritis), dengan menggunakan pikiran, karena berfilsafat adalah olah pikir. Hanya kita buktikan bahwa berpikir itu banyak sekali dimensinya dan banyak sekali hubungannya, terbukti di dalam elegi-elegi Prof. Marsigit, bagaimana beliau menghubung-hubungkan pikiran dengan hati, kemudian bagaimana menerapkan pikiran untuk memahami segala sesuatunya di dalam ruang dan waktunya sehingga harapannya yaitu melalui berfilsafat kita dapat memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada di dalam ruang lingkup yang kita pikirkan. Misalnya jika yang kita bicarakan tentang pendidikan matematika, maka ruang yang satu dengan yang lainnya itu saling berpotong-potongan. Pendidikan matematika dalam arti materialnya artinya satu sisi terdapat ruang pendidikan matematika, dimana ruang sebelahnya adalah pendidikan sains, ruang pendidikan IPS, dan lain sebagainya. Tapi di dalamnya itu atau di dalam ruang-ruang itu bisa kita berikan dimensi baru yaitu ruang material, formal, normative dan spiritual, dan juga ruang-ruang yang lain, misalnya ruang archaic, ruang politik, ruang diri, ruang subyektif, ruang universal, ruang kuantitatif, ruang kualitatif dsb.
Fungsi karakter matematika di sekolah adalah mengajarkan tentang kesadaran klasifikasi/ penggolong-golongan, hal ini dipandang dari sisi filsafat sangat mudah karena penggolong-golongan adalah kategori. Kategori sangat penting, tiadalah kesadaran kita terlepas dari kategori. Pengetahuan dan ilmu itu adalah merupakan kategori. Tanpa kategori kita tidak mampu berpikir dan tidak bisa hidup. Kategori itu merupakan salah satu bentuk dari intuisi ruang. Dalam kuliah SMA atau S1 mereka membaca buku-buku filsafat, bisa sumber primer, skunder maupun tersier. Jadi kita sudah belajar filsafat dari perkembangannya mulai jaman Yunani Kuno dulu. Wajar kalau yang menjadi fokus adalah segala benda yang berada di luar dirinya. maka dia selalu tertarik segala sesuatu itu dibuat dari apa dan unsur dasarnya apa. Maka mulailah pemikiran-pemikiran untuk menggali unsur-unsur  benda yang ada di bumi ini. Maka muncullah pemikir-pemikir dengan berbagai teori. itulah kaitannya dengan pikiran para filsuf.
Sebagai contoh, Plato membuat buku “Republika” yang berbicara mengenai ketatanegaraan. Sehingga praktek pertama ketatanegaraan adalah pada jaman Yunani Kuno. Hai ini dulu masih bersifat netral dan tidak terbebani oleh politik-politik tertentu, jadi bersifat merdeka. Antara ide dengan kekuatan itu merupakan pertemuan antara pikiran dengan  pengalaman, sehingga kekuatan yang didukung oleh tentara atau kekuatan Negara itu  bisa to direct atau determine, kemudian bisa menentukan apa yang diinginkan. Salah satu kebenaran berbunyi bahwa bumi itu merupakan pusat alam semesta. Sehinggan ketika ada revolusi Copernicus maka yang mengatakan bahwa bumi bukan sebagai pusat, tetapi matahari adalah sebagai pusat maka sungguh sesuatu yang sangat luar biasa, karena meruntuhkan kredibilitas, maka kalau bisa ini diberantas supaya tidak berkembang, tapi pemikiran itu bisa lari secepat angin, tidak serta merta bisa dibasmi begitu saja. Dan sampai sekarang dikenal bahwa pusat tata surya itu bukan bumi, tetapi matahari. Bumi itu hanya berputar pada porosnya, bumi mengalami rotasi dan revolusi, bumi itu mengelilingi matahari. Itu merupakan suatu contoh mengenai betulnya suatu pengetahuan.
Kembali pada masalah perkembangan filsafat, ketika jaman modern itu diawali oleh revolusi Copernicus itu merupakan landasan untuk jaman modern. Yang disebut kaum Empiris itu banyak sekali, ada Empiris daratan Eropa ada Empiris daratan Inggris, tokohnya berbeda-beda, juga ada Rasionalis yang di Inggris maupun di Eropa, walaupun tokoh Rasionalis adalah orang Perancis misalnya. Tapi kalau kita lihat kembali, perkembangan filsafat atau lajunya dinamika itu juga terjadi sejarah peradaban manusia dengan berbagai macam keadaan atau naik turunnya pergaulan antar bangsa, misalnya perang Khalid (perang antara orang Islam dengan Eropa) itu membawa dampak yang luar biasa yaitu tersosialisasinya ilmu atau menyebarnya ilmu pengetahuan. Pertama-tama bahwa ajaran Yunani Kuno itu dibawa oleh orang-orang Islam ke timur dan dipelajari di sana. Sementara semangatnya pada saat itu karena dominasi gereja itulah maka filsafat Yunani itu dianggap bertentangan dengan gereja. Maka orangnya pun dikejar dan bukunya pun dibakar. Sehingga setelah usai jaman gelap terjadi peperangan kembali dan dunia timur bisa dikalahkan maka ditemukan kembali buku-bukunya Plato dan buku-bukunya Aristoteles, maka dibangkitkan kembali filsafat Yunani Kuno, dalam hal ini peran daripada orang-orang Islam adalah yang memelihara filsafat Yunani kuno, kemudian pada saat yang tepat orang-orang Eropa bisa membacanya kembali, ditambah filsafatnya bangsa Islam termasuk teknologinya. Sehingga pertanyaannya kemudian ialah kenapa bangsa Eropa menjadi bangsa yang relatif menang dalam hal teknologi. Salah satu contohnya membuat rumah saja penuh dengan teknologi.
Definisi ilmu itu tergantung dunianya. Ada lima dunia ; kaum industry, kaum konservatif, kaum humanis (old humanis), kaum sosiokontraktif, kaum progresif (kaum education is for all society). Kaum industry, kaum konservatif dan kaum humanis (old humanis) mendefinisikan matematika sebagai body of knowledge, sebagai structure of knowledge. Jadi para mathematicism itu adalah para prajurit-prajuritnya kaum Industrialisasi ini. Jika kita berpikir seperti Pure Mathematicism ketika menghadapi murid-murid, berarti kita adalah prajurit-prajuritnya kaum Industrialisasi yang siap mencabut intuisinya para siswa, itulah yang bikin tragis, tetapi kaum Sosiokontraktif dan kaum Progresif (kaum education is for all society) mendefinisikan matematika sebagai kegiatan, bahkan kegiatan sosial. Tugas guru adalah bagaimana caranya agar intuisi siswa itu tidak hilang, karena intuisi adalah 80% dari hidup kita.
Bagi Industrialisasi, Konservatif dan Old Humanis yang namanya ujian itu adalah eksternal tes atau ujian nasional, sedangkan bagi Progresif dan kaum education is for all society, yang namanya evaluasi adalah portofolio. Beda sekali mendefinisikannya. Dan orang-orang New Zeland dan orang-orang Inggris sangat menolak ujian nasional. Teknologi itu harus ada segmennya. Itulah yang dalam filsafat disebut dunia makro. Kalau dunia mikro tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri.
Hebatnya orang berfilsafat itu yaitu mampu mentrasformir dunia, menembus ruang dan waktu. Old Humanis itu artinya tidak berpusat pada Tuhan, tetapi berpusat pada manusia. Lain dengan Humaniora yang berarti sifat-sifat manusiawi, tapi kalau Humanis itu yang bersifat berpusat pada diri manusia, ini tidak baik menurut orang yang berpusat pada Tuhan. Hal ini jika dilihat dari segmen sisi pendidikan.
Indonesia sekarang ini sudah terjebak dalam skema Kapitalis, Pragmatis, Utilitarian, Hedonis, atau sang Powernow. Jadi kalau ingin membaca riwayat hidup Indonesia di waktu yang akan datang maka bacalah riwayat hidup Amerika. Karena Amerika itu adalah tokoh dan sponsornya Powernow. Indonesia sekarang ini berada pada fase dimana lebih suka dengan sensasi, itu baik atau buruk tidak peduli. Kaitannya dengan artis yang turun ke dunia politik itu fenomenanya bisa dikatakan sebagai kekecewaan masyarakat terhadap situasi, atau bisa juga diistilahkan sebagai “nglulu”. Intuisi itu sangat penting sekali. Ada intuisi ruang ada intuisi waktu. Intuisi ruang miaslnya panjang, pendek, besar, kecil, jauh, dekat. Belajar intuisi itu dengan peragaan, tidak perlu mendefinisikan.