Rabu, 24 September 2014

ZIARAH INTUISI DAN NURANI YANG TELAH LAMA MATI (Sebuah Goresan Refleksi dari kuliah Prof.Dr.Marsigit, M.A)


Langit – langit kamar berpesan, “Bercita – citalah setinggi mungkin”
Jam dinding berkata, “Tiap detik itu sangat berharga”
Cermin bilang, “Berkacalah sebelum bertindak”
Kalender menasehati, “Jangan menunda sampai besok”
Pintu berteriak,” Dorong yang keras, Pergi dan Berusahalah”
Tiba – Tiba lantai berbisik, “ BERSUJUD dan BERDO’ALAH karena kunci kesuksesan kita, semua karena  ALLAH subhanawata’ala.

Sudah lebih dari 27 tahun saya hidup dan dalam perjalanan nya banyak hal yang saya pelajari namun ternyata baru saya sadari bahwa ada tak berhingga pengetahuan yang saya mengerti tetapi tidak dapat mendefinisikan nya (Intuisi) dan sedikit sekali pengetahuan yang saya mengerti dengan didefinisikan (Formal). Begitulah kesimpulan yang saya dapatkan dari kuliah Prof. Dr. Marsigit pada hari jumat, 19 September 2014. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sedikit ilmu dan mengajak kita semua untuk lebih memahami tentang Pengetahuan Intuisi tersebut.

Sebelum memulai kuliah, beliau memberikan test jawab singkat 50 soal,dan saya salah semua. Diantara pertanyaannya adalah apakah definisi bijak, baik, buruk, panjang, lurus, lengkung, lancip,cinta dan benci. Secara pemahaman saya mengerti maksud dari kata tersebut akan tetapi ketika diminta untuk mendefinisikan bukanlah hal yang mudah dan saya tidak bisa. Ternyata, kata – kata tersebut adalah sebagian kecil dari contoh pengetahuan yang dimengerti tetapi tidak bisa di definisikan. Pengetahuan seperti ini disebut Pengetahuan Intuisi. Sementara contoh pengetahuan yang saya mengerti dengan didefinisikan itu terkait dengan pengetahuan formal seperti matematika aksiomatik/matematika murni/matematika pergururuan tinggi. Untuk mengetahui bilangan prima perlu dirumuskan definisi. Bilangan prima adalah contoh dari pengetahuan formal. Pengetahuan ini sangat sedikit sekali di bandingkan pengetahuan intuisi.

Pengetahuan intuisi meliputi sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sebenar benarnya belajar adalah mengadakan dari para semua yang mungkin ada. Sehingga pengetahuan intuisi sangat penting dalam kerangka pembelajaran untuk mengembangkan kreatifitas dan pemahaman siswa pada umumnya. Pendapat Thomson pada Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1: Intuisi Dalam Matematika Oleh Prof. Marsigit menjelaskan tentang peran intuisi dalam matematika adalah membuka jalan ke dalam struktur utama dari pikiran manusia. Thompson menyimpulkan bahwa intuisi matematika akan muncul setelah tahap olah pengalaman (experience) matematika. Bagi matematikawan, mathematical experiences adalah proses dan hasil-hasil riset matematika. Sedangkan bagi siswa sekolah mathematical experiences dibangun diatas akumulasi keterampilan matematika (mathematical skills) yang didukung oleh pengetahuan atau pemahaman matematika (mathematical content). Semuanya itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung oleh sikap dan metode matematika (mathematical attitude and method) dan sikap pendukung (supporting attitude) serta internal motivation (rasa senang dan matematika yang menyenangkan).

Kenyataannya saat ini, kebanyakan guru matematika dalam kegiatan pembelajaran masih sering terpaku kepada jebakan definisi yang cenderung di paksakan pada siswa. Ibarat bayi 2 bulan yang diberi makan jagung. Akibatnya dapat merusak intuisi mereka. Padahal untuk anak - anak 100 % hidupnya menggunakan pengetahuan intuisi. Bahkan seorang profesor matematika yang saya lupa namanya sempat mengakui hanya 3 % menguasai matematika sebagai definisi pengetahuan formal.  Seperti kasus yang sedang heboh baru – baru ini mengenai hasil ujian siswa SD tentang perbedaan 4 x 6 dan 6 x 4 yang sampai membuat profesor dari ITB dan UGM berdebat merupakan contoh bagaimana budaya belajar matematika untuk anak masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Secara definisi matematis kedua perkalian tersebut menghasilkan nilai yang sama.Tetapi secara empiris kedua perkalian tersebut memiliki makna yang tidak sama. Misalkan dalam meresepkan obat 3 x 1 berbeda dengan 1 x 3. Mungkin guru tersebut bermaksud untuk menanamkan konsep matematis sedini mungkin kepada siswa tetapi harus juga di perhatikan level pemahaman siswa yang masih tergolong rendah terhadap hal yang abstrak. Belum lagi  pada kasus  Ujian Nasional yang terus menjadi polemik dimana guru mendapat tekanan yang luar biasa sehingga melakukan inovasi yang tidak biasa pula dalam mendampingi siswa. Dengan mengabaikan proses pengalaman belajar matematika guru langsung memberikan latihan soal yang di jawab secara singkat.Dengan kondisi pembelajaran matematika yang demikian akan menyebabkan para siswa menjadi miskin mathematical intuition. Bahkan fatalnya bisa mencabut intuisi dan nurani anak. Atau mungkin sebenarnya intusi dan nurani anak anak telah lama mati.

Sebagai seorang pendidik yang di punggungnya memikul beban yang berat lagi mulia hendaknya kita dapat kembali menghidupkan intuisi anak dalam belajar. Jangan biarkan definisi membunuh intuisi mereka. Karenanya, pembelajaran untuk anak didefinisikan sebagai aktifitas untuk menggali intuisi melalui observasi,manipulasi, mengamati,praktek langsung, menggambar, mengukur dan menyimpulkan sehingga akhirnya anak – anak dapat mendefinisikan sendiri apa yang sedang dipelajari. Matematika sekolah intinya adalah kegiatan yang bertujuan untuk menelusuri pola dan hubungan, problem solving, investigasi, dan komunikasi. Jauhkan anak dari zona nyaman yang membuat mereka berhenti untuk berfikir kritis karena dalam filsafat kematian lah yang mejadi zona nyaman itu. Mudah – mudahan melalui sedikit goresan ini bisa menyadarkan kita untuk kembali menziarahi intuisi dan nurani anak yang telah lama mati sehingga ada hal baik untuk dapat diterapkan kepada generasi di masa mendatang. Di akhir, saya nukilkan pernyataan Krisna kepada Drupadi tentang Hati dan Waktu  sebagai berikut “ kebahagiaanmu di waktu yang akan datang tidak bisa menyembuhkan kesedihanmu sekarang sebaliknya kesedihanmu diwaktu yang akan datang mungkin akan menghilangkan kebahagianmu diwaktu sekarang “  

Refferensi :
Kuliah Prof. Dr.Marsigit, M.A  Jumat, 19 September 2014
http://powermathematics.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar