Terinspirasi Oleh
Kuliah Prof.Dr. Marsigit,MA Pada Hari Jumat,10 Oktober 2014 Jam 15.40 -1720 di
Ruang 106A Gd.Lama Pasca Sarjana UNY
Dalam mempelajari Filsafat, kita merujuk kepada
pemikiran para filsuf. Untuk memahami pemikiran para filsuf kita bisa membaca
sejarah perkembangan filsafat dan karya – karya yang mereka buat. Berikut akan
coba saya uraikan sejarah perkembangan filsafat untuk dapat sedikit membantu
kita dalam mempelajari ilmu filsafat.
Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada,
baik filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dan lain-lain.
Semua obyek filsafat memiliki sifat-sifat, diantaranya adalah sifat tetap dan
sifat berubah.
Ø Sifat Tetap
(hermenidesme)
Tetap ini
mempunyai sifat yaitu satu (monoisme)
Ø Sifat
Berubah (heraditos)
Berubah yang
dimaksud mempunyai sifat yaitu banyak/ jamak (pluralisme)
Sifat dari gabungan tetap dan berubah suatu obyek
filsafat adalah dua (dualism).
Plato (Platonisme) menyebutkan bahwa tetap berada
dalam pikiran, yang kemudian melahirkan idealisme. Bersifat Analitik A Priori.
Analitik adalah konsisten. A Priori adalah berpikir walaupun belum bertemu. Hal
ini menyebabkan sifat identitas, contohnya Aku = Aku, A = A, dst yang selalu
konsisten. Aristoteles menyebutkan bahwa semua yang berubah adalah bersifat di
luar pikiran. Kemudian melahirkan paham realisme. Bersifat Sintetik A
Posteriori. Sintetik artinya intuitif. A Posteriori artinya baru bisa berpikir
setelah mrlihatnya. Hal ini menyebabkan sifat kontradiksi, contohnya Aku ≠ Aku, A ≠ A, dst yang tentu tidak konsisten
Abad Gelap
Pada abad 13 – 15 Masehi terjadi abad gelab, yaitu
abad di mana kepercayaan paham Geosentris sangat dominan. Siapa saja yang
menolak kepercayaan tersebut akan dibunuh. Geometris adalah dimana bumi
merupakan pusat dari tata surya sehingga matahari, bulan, bintang-bintang, dll
mengitari bumi (bumi sebagai poros). Kemudian Corponicus memunculkan gagasan
baru yang berlawanan, yaitu Heliosentris. Heliosentris adalah dimana matahari
merupakan pusat dari tata surya sehingga bumi memutari matahari (matahari
sebagai poros). Korban dari munculnya paham Heliosentris adalah murid dari
Corponicus sendiri, yaitu terbunuhnya Gelileo Galilei. Setelah itu, pada tahun
1600 – 1700 an muncul Rene Descrates dan David Hume yang merupakan pertanda
munculnya abad baru, yaitu abad modern.
Rene Descartes adalah tokoh yang mencantumkan paham
rasionalisme yang berasal dari sifat obyek yang tetap. Rene Descartes menyebutkan
bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada rasio.
David Hume adalah tokoh yang mencantumkan paham
empirisme, yaitu pengalaman. Hal ini berpangkal dari sifat obyek yang dianggap
berubah. David Hume menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman.
Immanuel Kant (1781)
Immanuel Kant (1781) mencetuskan untuk “mengawinkan”
kedua kutub besar, yaitu analitik apriori dan sintetik a posteriori. Analitik A
posteriori tidak bisa digabungkan karena apolitik berarti konsisten yang
melahirkan paham koherentisme (matematika murni), a posteriori berarti baru
bisa berpikir setelah melihat sehingga tidak terjadinya konsistensi. Kemudian,
digabungkannya Sintetik A Priori. Sintetik adalah intuitif, kemudian apriori
adalah bisa berpikir walau belum bertemu sehingga tercetuslah bahwa ilmu adalah
sintetik a priori.
Immanuel Kant menyebutkan bahwa setiap manusia
menggunakan kategori untuk menerjemahkan hal kongrit menuju ke hal yang formal.
Sedangkan, yang digunakan untuk menerjemahkan hal formal menuju ke hal kongrit
atau pengalaman disebut dengan hermenetika.
Hal ini melahirkan paham absolutism, contohnya adalah
matematika murni. Melahirkan paham relativisme, contohnya adalah matematika
kongrit. Kemudian, penggunaan metode saintifik serta bantuan teknologi, maka
matematika kongrit dibawa ke matematika yang absolut.
Terjadi pemberontakan Aguste Compte yang merupakan
penganut positivism melahirkan ilmu bidang. Menurut pandangan Aguste Compte
tataran paling rendah adalah spiritualitas, normative filsafat, kemudian
saintifik. Hal ini tentu saja membuat terjadinya anomaly terhadap dunia, yaitu
keadaan dimana dunia menjadi sakit
Menurut masyarakat modern kontemporer saat ini,
tataran masyarakat paling rendah adalah archaic (masyarakat batu), kemudian
tribal, tradisional, feudal, modern, post-modern, dan post-post modern (powernow).
Spiritualitas pada masyarakat modern ini disebut sebagai masyarakat tribal atau
masyakarakat yang tradisional. Hal ini menyebabkan kita lupa akan identitas
kita sebagai makhluk Tuhan YME. Powernow menggunakan banyak senjata-senjata
seperti kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain-lain untuk menguasai
dunia.
Manusia bagaikan ikan kecil yang terombang
ambing di lautan kehidupan (ide) sekarang yang kontemporer. Filsafat merupakan
salah satu sensor untuk mendeteksi jenis air yang baik dan buruk bagi diri
kita, mengetahui dimensi ruang dan waktu, memperkuat pikiran kritis, dan masih
banyak lagi. Selain itu, doa yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan YME untuk
selalu mohon ampun dan rahmatnya sehingga bisa terhindar dari sifat-sifat jahat
adalah hal yang penting pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar