Kamis, 30 Oktober 2014

BELAJAR SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT (Sebuah Refleksi Kacang Agar Tidak Lupa Pada Kulitnya)


Terinspirasi Oleh Kuliah Prof.Dr. Marsigit,MA Pada Hari Jumat,10 Oktober 2014 Jam 15.40 -1720 di Ruang 106A Gd.Lama Pasca Sarjana UNY


Dalam mempelajari Filsafat, kita merujuk kepada pemikiran para filsuf. Untuk memahami pemikiran para filsuf kita bisa membaca sejarah perkembangan filsafat dan karya – karya yang mereka buat. Berikut akan coba saya uraikan sejarah perkembangan filsafat untuk dapat sedikit membantu kita dalam mempelajari ilmu filsafat.
Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, baik filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat pendidikan, dan lain-lain. Semua obyek filsafat memiliki sifat-sifat, diantaranya adalah sifat tetap dan sifat berubah.

Ø  Sifat Tetap (hermenidesme)
Tetap ini mempunyai sifat yaitu satu (monoisme)

Ø  Sifat Berubah (heraditos)
Berubah yang dimaksud mempunyai sifat yaitu banyak/ jamak (pluralisme)
Sifat dari gabungan tetap dan berubah suatu obyek filsafat adalah dua (dualism).
Plato (Platonisme) menyebutkan bahwa tetap berada dalam pikiran, yang kemudian melahirkan idealisme. Bersifat Analitik A Priori. Analitik adalah konsisten. A Priori adalah berpikir walaupun belum bertemu. Hal ini menyebabkan sifat identitas, contohnya Aku = Aku, A = A, dst yang selalu konsisten. Aristoteles menyebutkan bahwa semua yang berubah adalah bersifat di luar pikiran. Kemudian melahirkan paham realisme. Bersifat Sintetik A Posteriori. Sintetik artinya intuitif. A Posteriori artinya baru bisa berpikir setelah mrlihatnya. Hal ini menyebabkan sifat kontradiksi, contohnya Aku  Aku, A ≠ A, dst yang tentu tidak konsisten

Abad Gelap

Pada abad 13 – 15 Masehi terjadi abad gelab, yaitu abad di mana kepercayaan paham Geosentris sangat dominan. Siapa saja yang menolak kepercayaan tersebut akan dibunuh. Geometris adalah dimana bumi merupakan pusat dari tata surya sehingga matahari, bulan, bintang-bintang, dll mengitari bumi (bumi sebagai poros). Kemudian Corponicus memunculkan gagasan baru yang berlawanan, yaitu Heliosentris. Heliosentris adalah dimana matahari merupakan pusat dari tata surya sehingga bumi memutari matahari (matahari sebagai poros). Korban dari munculnya paham Heliosentris adalah murid dari Corponicus sendiri, yaitu terbunuhnya Gelileo Galilei. Setelah itu, pada tahun 1600 – 1700 an muncul Rene Descrates dan David Hume yang merupakan pertanda munculnya abad baru, yaitu abad modern.
Rene Descartes adalah tokoh yang mencantumkan paham rasionalisme yang berasal dari sifat obyek yang tetap. Rene Descartes menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada rasio.
David Hume adalah tokoh yang mencantumkan paham empirisme, yaitu pengalaman. Hal ini berpangkal dari sifat obyek yang dianggap berubah. David Hume menyebutkan bahwa tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman.

Immanuel Kant (1781)
Immanuel Kant (1781) mencetuskan untuk “mengawinkan” kedua kutub besar, yaitu analitik apriori dan sintetik a posteriori. Analitik A posteriori tidak bisa digabungkan karena apolitik berarti konsisten yang melahirkan paham koherentisme (matematika murni), a posteriori berarti baru bisa berpikir setelah melihat sehingga tidak terjadinya konsistensi. Kemudian, digabungkannya Sintetik A Priori. Sintetik adalah intuitif, kemudian apriori adalah bisa berpikir walau belum bertemu sehingga tercetuslah bahwa ilmu adalah sintetik a priori.

Immanuel Kant menyebutkan bahwa setiap manusia menggunakan kategori untuk menerjemahkan hal kongrit menuju ke hal yang formal. Sedangkan, yang digunakan untuk menerjemahkan hal formal menuju ke hal kongrit atau pengalaman disebut dengan hermenetika.

Hal ini melahirkan paham absolutism, contohnya adalah matematika murni. Melahirkan paham relativisme, contohnya adalah matematika kongrit. Kemudian, penggunaan metode saintifik serta bantuan teknologi, maka matematika kongrit dibawa ke matematika yang absolut.

Terjadi pemberontakan Aguste Compte yang merupakan penganut positivism melahirkan ilmu bidang. Menurut pandangan Aguste Compte tataran paling rendah adalah spiritualitas, normative filsafat, kemudian saintifik. Hal ini tentu saja membuat terjadinya anomaly terhadap dunia, yaitu keadaan dimana dunia menjadi sakit
Menurut masyarakat modern kontemporer saat ini, tataran masyarakat paling rendah adalah archaic (masyarakat batu), kemudian tribal, tradisional, feudal, modern, post-modern, dan post-post modern (powernow). Spiritualitas pada masyarakat modern ini disebut sebagai masyarakat tribal atau masyakarakat yang tradisional. Hal ini menyebabkan kita lupa akan identitas kita sebagai makhluk Tuhan YME. Powernow menggunakan banyak senjata-senjata seperti kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain-lain untuk menguasai dunia.


Manusia bagaikan ikan kecil yang terombang ambing di lautan kehidupan (ide) sekarang yang kontemporer. Filsafat merupakan salah satu sensor untuk mendeteksi jenis air yang baik dan buruk bagi diri kita, mengetahui dimensi ruang dan waktu, memperkuat pikiran kritis, dan masih banyak lagi. Selain itu, doa yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan YME untuk selalu mohon ampun dan rahmatnya sehingga bisa terhindar dari sifat-sifat jahat adalah hal yang penting pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar