Kamis, 30 Oktober 2014

AKAR FILSAFAT ADALAH KESADARAN BERFIKIR

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Oleh Prof. Dr.Marsigit,MA pada hari Jumat, 17 Oktober 2014

Berfilsat itu lembut, bergerak, memantul, berakar, berhubungan, bertingkat tingkat, dan berdimensi. Filsafat dibangun sesuai dengan prinsip hidup. Dia mengalir,punya kelebihan dan kekurangan. Bisa sakit dan sehat. Yang paling pokok dari filsafat yang sehat adalah hidup yang sehat. Kalau hidup sehat maka bisa membangun filsafat yang sehat. Artinya filsafat tidak berjarak dengan hidup. Filsafat juga tidak berjarak dengan diri kita. Oleh karena itu sebenar benar filsafat adalah diri kita sendiri.
Dalam filsafat utk konteks tertentu memiliki perbedaan. Bagi orang Barat filsafat merupakan pola fikir. Sedangkan bagi orang timur, filsafat adalah mencari kesempurnaan hidup. Manusia makhluk sempurna di dalam ketidaksempurnaan nya. Maka tiadalah mampu manusia itu mencari kesempurnaan hidup melainkan hanya berusaha karena manusia menyadari yang maha sempurna adalah Tuhan.
Filsafat tidak boleh diabaikan karena artinya kita akan mengabaikan fikiran. Tetapi tidak juga bisa di paksakan karena bisa jadi sakit. Oleh karena itu, karena filsafat menjadi bagian dari diri kita, kenalilah objek,metode,dan batas batasannya. Batasan dalam filsafat adalah : etik dan estetika. Kalau  di intesifkan ke atas memuat spiritualitas. Filsafat jika dianalogikan fikiran maka merujuk kepada dunia. Sedangkan filsafat spiritual berada di dalam hati. Jadi bisa juga dikatakan bahwa batasaan filsafat adalah hati. Jadi hati bisa mendeteksi batas fikiran kita. Sehebat apapun dunia kita jangan sampai meronngrong iman kita tetapi sebaliknya belajar filsafat justru diharapkan dapat menyuburkan spiritual dan memperkokokh keyakinan kita.
Karektiristik filsafat adalah berfikir, utk bisa berfikir maka harus membaca. Sebenar benar filsafat adalah yang ada dan mungkin ada. Jadi dengan cara membaca dan mengenali yang ada dan mungkin ada merupakan akar dari belajar belajar filsafat.
Filsafat adalah manajemen ruang dan waktu. Tidak peka terhadap ruang dan waktu merupakan penyakit filsafat. Filsafat memperjuangkan yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita. Satu dengan yang lain merupakan thesis dan anti thesis. Filsafat memperbincangkan segala sesuatu. Menginteraksikan antara thesis dan anti thesis, karena obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Mesir merupakan thesis dari orang Yunani dan orang Yunani merupakan anti thesis dari orang Mesir. Kesadaran berfilsafat sangat lembut sekali. Pusat budaya adalah kerajaan, yang mengajarkan forma atau tata cara.
Esensi filsafat, dari awal hingga akhir pada intinya kita belajar adab dalam berfilsafat, dan berpikir sesuai ruang dan waktu. Setiap individu menepati ruang dan waktu masing – masing. Tergantung individu masing – masing dalam memanfaatkan ruang dan waktu sebagai kesempatan hidup. Adanya ketidaktepatan ruang dan waktu berakibat siapa yang berkuasa dialah yang berhak bicara. Filsafat tidak hanya olah pikir orang biasa, dalam artian harus profesional, yang mempunyai kesadaran dalam setiap multi dimensi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar